Definisi dan Cara Hitung Dividend Payout Ratio

Pengertian Dividend Payout Ratio

Dividend Payout Ratio atau Rasio Pembayaran Dividen merupakan rasio dari jumlah total dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham relatif terhadap laba bersih perusahaan. Ini adalah kandungan berasal dari pendapatan yang dibayarkan kepada pemegang saham dalam dividen.

Jumlah yang tidak dibayarkan kepada pemegang saham dipertahankan oleh perusahaan untuk melunasi utang atau untuk berinvestasi lagi dalam operasi inti dan biasa disebut sebagai ‘rasio pembayaran’ atau payout ratio.

DPR menunjukkan tentang berapa banyak uang yang dikembalikan perusahaan kepada pemegang saham versus berapa banyak yang tersisa untuk diinvestasikan lagi dalam pertumbuhan, melunasi utang, atau meningkatkan cadangan kas (laba ditahan).

 

 

Cara Menghitung

Ada beberapa cara dalam menghitung DPR, yaitu:

Membagi Jumlah Dividen dengan Laba Bersih

Dividend Payout Ratio dihitung dengan membagi jumlah dividen tunai perusahaan dengan laba bersih perusahaan.

DPR = Dividend : Net Profit (Laba Bersih)

 

Menghitung Berdasarkan “Per Saham”

Dividend Payout Ratio juga bisa dihitung dengan rumus per lembar saham kembali berdasarkan “per saham”.

Jika dividen per saham dan laba per saham diketahui, rasio pembayaran dividen bisa dihitung dengan manfaatkan konsep dividen yang mirip yang dibayarkan dibagi dengan pendapatan, atau laba bersih.

DPR = Dividend Per Share (DPS) : Earning Per Share (EPS)

 

Menghitung Retention Ratio Dahulu

Dividend Payout Ratio juga bisa dihitung dengan menghitung Retention Ratio (RR) lebih dahulu.

Retention Ratio merupakan rasio yang menunjukkan takaran saldo laba yang ditahan dibandingkan bersama dengan laba bersih perusahaan.

RR = Saldo Laba Ditahan : Net Profit (Laba Bersih)

DPR = 1 – Retention Ratio

 

Dari rumus tersebut dapat diketahui bahwa Retention Ratio (RR) atau Rasio Retensi dijumlah bersama dengan DPR sama dengan 1 atau 100% dari laba bersih. Jumlah yang tidak dibayarkan oleh perusahaan sebagai dividen akan diinvestasikan kembali untuk pengembangan usaha.

 

Contoh Perhitungan

Pembagian dividen saham PT Waskita Beton Precast Tbk tahun 2017 adalah sebagai berikut:

Net Profit / Laba Bersih sebesar 635.271.036.798;
Dividen yang dibagikan sebesar 317.409.762.446;
Jumlah Lembar Saham sebanyak 26.361.157.534 lembar.

Cara 1

DPR = Dividend : Net Profit (Laba Bersih)

Rp 317.409.762.446 : Rp 635.271.036.798 = 49,96%

 

Cara 2

Dividend : Lembar Saham = DPS (Dividend Per Share)

Rp 317.409.762.446 : 26.361.157.534 = 12,04

 

Net Profit : Lembar Saham = EPS (Earning Per Share)

Rp 635.271.036.798 : 26.361.157.534 = 24,1

 

DPR = Dividend Per Share (DPS) : Earning Per Share (EPS)

12,04 : 24,1 = 49,96%

 

Cara 3

Net Profit – Dividend = Saldo Laba Ditahan (Retention)

Rp 635.271.036.798 – Rp 317.409.762.446 = Rp 317.861.274.352

 

Retention : Net Profit (Laba Bersih) = Retention Ratio

Rp 317.861.274.352 : Rp 635.271.036.798 = 50,04%

 

100% – Retention Ratio = DPR

100% – 50,04% = 49,96%

 

Pihak yang Menggunakan DPR

Ada dua pihak yang memiliki keperluan untuk mengkalkulasi rasio DPR, yakni pihak investor (pemegang saham yang tertarik untuk menerima dividen, biasanya lebih menyukai rasio pembayaran dividen yang tinggi) dan pihak manajemen.

Turunnya rasio pembayaran dividen bakal menyebabkan pemegang saham prihatin, apalagi para pemegang saham yang terkait pada penghasilan tetap (fixed income), layaknya para pensiunan.

Para pemegang saham bisa saja bakal berpikir untuk menjual saham mereka didalam suatu perusahaan yang memotong dividen-nya. Di sisi lain menurut kacamata manajemen perusahaan, suatu perusahaan yang sedang tumbuh bakal menahan labanya demi mendukung perkembangan di masa mendatang.

Dengan demikian, dividen yang dibagikan jumlahnya amat minim atau tidak tersedia sama sekali. Namun, dengan menginvestasikan lagi labanya ke dalam perusahaan, harga perusahaan tersebut di dalam bursa saham mampu meningkat.

 

Faktor yang Mempengaruhi Dividen

Dividen hanya bakal dibagi kalau perusahaan sukses menciptakan laba bersih. Jika perusahaan ternyata menderita kerugian di dalam tahun buku berjalan, kemungkinan besar perusahaan tersebut tidak bakal membagikan dividen, kendati masih ada kemungkinan untuk membagikan dividen yang berasal dari laba ditahan di tahun sebelumnya.

Perusahaan bakal mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebelum membagikan keuntungan perusahaan atau dividen. Setiap ketetapan adalah persetujuan berasal dari mayoritas pemegang saham. Jika mayoritas pemegang saham tidak setuju untuk membagikan dividen dan lebih condong untuk melakukan ekspansi, maka manajemen tidak bakal membagi dividen kendati perusahaan sukses mencapai keuntungan besar.

Beberapa hal utama yang menentukan besar kecilnya nilai dividen yang bakal dibagikan, antara lain:

  1. Kondisi Likuiditas Perusahaan. Apakah perusahaan mempunyai cadangan kas yang berlimpah atau tidak. Jika kas perusahaan likuid, maka manajemen tidak bakal ragu membagikan dividen di dalam jumlah besar.
  2. Rencana Ekspansi Perusahaan. Jika perusahaan mempunyai rancangan membeli modal atau ekspansi yang perlu pendanaan besar, maka manajemen biasanya bakal mementingkan membeli modal, agar porsi untuk dividen dikurangi.